Manajemen Resiko


MANAJEMEN RISIKO

I.PENDAHULUAN

        Sebagai hasil dari refomasi birokrasi, dituntut adanya reformasi birokrasi. Termasuk dalam hal ini Mahkamah Agung mencanangkan ”Cetak Biru”(Blue Print) sebagai sasaran yang hendak dituju yang hal itu  diketahui dari visi Mahkamah Agung RI untuk tercapainya peradilan yang agung dan moderen. Untuk mencapai hal tersebut maka dalam berbagai kebijakannya Mahkamah Agung menetapkan adanya standar penajaminan mutu pelayanan yang terakreditasi dengan menggunakan “Standar Operasional Prosedur” (SOP). Standar pelayanan itu tidaklah dengan mudah dicapai atau dipertahankan, mengingat baik sumber daya manusia (human resource),system maupun infrastruktur ( sarana dan prasarana ) belum memadai atau sebagaimana diharapkan.

         Kendala-kendala teknis dan non teknis yang selalu ada dan perlu prosedur penanganan,audit dan evaluasi dari Top Manajemen dan Manajemen Representatif yang selalu dilakukan untuk meningkatkan ataupun mempertahankan standar yang ditentukan. Salah satu alat manajemen mutu untung mengantisipasi tidak tercapainya apa yang diharapkan, adalah dengan melakukan analisa risiko (risk analysis) sebagai bagian dari manajemen risiko (risk management) yang harus di perhitungkan untuk menjamin terselenggaranya jaminan mutu pelayanan (quality management insurance) yang berkesinambungan.

        Risiko atau “risk” adalah pengaruh atau efek ketidak pastian pada tujuan (“effect of uncertainly on objectives”). Adapun terhadap resiko dalam suatu manajemen dapat diberi catatan:

  1. Efek atau pengaruh adalah penyimpangan dari yang tidak diharapkan baik positif maupun negative (An Effect is a devition from the expected-positive and/or negative);
  2. Tujuan dapat memiliki aspek yang berbeda dan dapat diterapkan pada tingkat yang berbeda (Objectives can have different aspects (such as financial, health and safety, and enviromnetalgoals) and can apply at different levels (such as strategic, organization-wide,project,product and process);
  3. Resiko sering ditandai dengan mengacu pada peristiwa potensial dan konsekwensi atau kombinasi keduanya (risk in often characterized by reference to potensial event and consequences, or a combination of these);

Semua bentuk kegiatan mengandung potensi risiko yang harus diidentifikasi (identifying), dianalisis (analysing) dan dievaluasi (evaluating) kreteria-kreteria resiko, sehingga risiko tersebut dapat dikelola dan diatasi. Diperlukan komunikasi dan konsultasi dengan seluruh pemangku kepentingan (shareholders), yang memantau, menganalisa serta mengotrol risiko sehingga dapat dipastikan bahwa risiko lebih lanjut tidak perlu ada.

Selengkapnya >>>